Kamis, 03 September 2020

Persoalan Jarum dan Angka

hiruk pikuk, sumpah serapah dan segala keramaian yg ada di dalam kepalaku adalah buah dari ke-khawatiran yg kutanam. laiknya senja yg tercipta berkat bergumulnya awan suci dengan jingga matahari di ufuk barat, memicu kagum meski sadar segala keindahan akan segera lenyap. 

bukankah harapan itu nyata? ombak yg kehilangan arah di tengah samudera pun dapat kembali menapaki hangatnya daratan, pasir-pasir yg kedinginan pun memiliki surutnya sendiri untuk selimut malam, begitu juga dengan karang yg dijarah tanpa kesengajaan, adalah bukti nyata perihal adanya harapan meski perih harus terlebih dahulu dirasakan. 

lantas kunang-kunang pun berhamburan di sela berbagai macam tanya, indah, menawan, dan bersinar. seketika aku tersadar, takkan mungkin melihat keindahannya di siang hari, sebab matahari masih terlalu egois untuk di siasati. meski pada akhirnya karma didapatkan, kala bulan bersinar dengan elegan tepat di waktu matahari tenggelam.

semua ini hanya persoalan detak jarum dan angka yg menempel di dinding rumah, pergelangan tangan, jalan-jalan kota dan gedung-gedung bertingkat. kelak detaknya akan menunjuk takhta dari segala risau di dasar sukma, dari runyamnya berjuta-juta sel logika, dan segala andai yg merusak moral jika tak diiringi dengan sebuah tindakan.

aku pun beranjak dari lamunanku, sembari bergumam;

"beruntung sekali menemui kunang-kunang di malam hari, ternyata benar; segala hal memang memiliki waktunya sendiri."


Aku Tau Sepi

aku tau sepi

aku adalah teman yg berisik

aku adalah angin yg memelukmu sendiri

aku adalah malam tanpa suara


aku adalah kamar bagi bulan dan bintang

aku tak pernah bersuara

sekalipun meneriakimu sebagai segalanya

aku tak pernah punya cara mengusirmu dari rumahku


aku tau sepi

aku adalah murung yg menatapmu dalam gelap

aku tahu sepi

aku melihatmu pada setiap hela nafas yg tak kusyukuri


aku tak pernah berhitung tentangmu

yg datang berkali-kali

aku hanyalah fajar dan tidur yg tak dinanti

aku serupa gelap yg tak seluas malam


aku adalah mimpi bagi kesendirianku

aku adalah dunia di balik binar hujan di mataku sendiri

aku tau sepi

aku tau kau? dan kau tak pernah mengajakku bercanda


aku tau dalam bait-bait doa yg serakah

aku menyuruh Tuhan hari demi hari

aku membeli bahagia dari serapai ucapan

yg tak berguna


aku tak tau isi senyumku sendiri

aku tau sepi kau yg paling paham wajahku

paling paham tangis-tangis yg rangup di sela hujan 

kau paling tahu jalan-jalanku di setiap kali ingin mati 


aku tau sepi 

aku adalah kamar yang tak pernah terasa rapih

aku adalah setiap lagu-lagu yg berisik

pada lamunanku sendiri

aku tau sepi perahu kertas dan kapal-kapalan manalagi yg kubuat untuk mainanku sendiri


aku tau sepi

di malam-malam menuju hari 

adalah tempat paling nyaman

untuk kau dan aku sendirian

tak ada apapun kecuali riuh pada kepalaku sendiri