hiruk pikuk, sumpah serapah dan segala keramaian yg ada di dalam kepalaku adalah buah dari ke-khawatiran yg kutanam. laiknya senja yg tercipta berkat bergumulnya awan suci dengan jingga matahari di ufuk barat, memicu kagum meski sadar segala keindahan akan segera lenyap.
bukankah harapan itu nyata? ombak yg kehilangan arah di tengah samudera pun dapat kembali menapaki hangatnya daratan, pasir-pasir yg kedinginan pun memiliki surutnya sendiri untuk selimut malam, begitu juga dengan karang yg dijarah tanpa kesengajaan, adalah bukti nyata perihal adanya harapan meski perih harus terlebih dahulu dirasakan.
lantas kunang-kunang pun berhamburan di sela berbagai macam tanya, indah, menawan, dan bersinar. seketika aku tersadar, takkan mungkin melihat keindahannya di siang hari, sebab matahari masih terlalu egois untuk di siasati. meski pada akhirnya karma didapatkan, kala bulan bersinar dengan elegan tepat di waktu matahari tenggelam.
semua ini hanya persoalan detak jarum dan angka yg menempel di dinding rumah, pergelangan tangan, jalan-jalan kota dan gedung-gedung bertingkat. kelak detaknya akan menunjuk takhta dari segala risau di dasar sukma, dari runyamnya berjuta-juta sel logika, dan segala andai yg merusak moral jika tak diiringi dengan sebuah tindakan.
aku pun beranjak dari lamunanku, sembari bergumam;
"beruntung sekali menemui kunang-kunang di malam hari, ternyata benar; segala hal memang memiliki waktunya sendiri."