Sabtu, 10 Februari 2024
Tengah Malam
Rabu, 07 Februari 2024
Pagi Raung
Jam 6 pagi melambung, gelora kuning merangsang langit yg meraung-raung. Selamat pagi dunia yg bingung, apa kabarnya matahari yg agung? Bagaimana malammu? Coba ku tebak pasti tidurmu penuh dengan untung, tidak sepertiku yg masih saja terus berkabung.
Ku pikir hari ini akan menarik tapi sisi kota masih saja berisik, sekarang saja sudah tericium masalah-masalah aroma yg klasik pikir nalarku penuh dengan usik, hati berbisik wahai pemilik badan yg so asik. Selamat banting tulang juga fisik semoga ada keberuntungan kata orang-orang yg mengulurkan tangan mereka masih saja terdengar seperti kaum yg berangan-angan, padahal hidup adalah arena persaingan. Panggung megah untuk saling bunuh demi sekarung pangan atau jangan-jangan mereka lupa kalo seisi bumi penuh dengan bajingan.
Semangat bagi mereka seperti menerjang badai dengan setumpuk peluru padahal kaki kita hanya sanggup melompat-lompat seperti kanguru. Masalah bagi mereka adalah guru, yg hikmahnya bisa di petik dari segala penjuru padahal kita lah yg sedang di buru berlari kencang seperti babu, terjebak di rantai sosial yg tak lagi tabu.
Pagi tak sebagus itu kawan, terima saja pahitnya tak perlulah melawan. Kedoknya saja yg indah, padahal pagi dateng membawa gundah. Awalnya saja bercahaya, padahal meninggalkan tanda bahaya. Sambutannya saja yg duka cita, padahal berpamitan dengan banyak derita.
Rabu, 31 Januari 2024
Tidak Ada Seorangpun Yang Ngerti Kamu
Ada yg lagi terpuruk banyak luka yg ia di tanggung sendirian. Tak pernah menceritakannya pada siapa-siapa, semua ke pahitan dan kesedihan ia telan sendirian. Setiap orang pasti punya ujian dan perjuangannya masing-masing. Ia tak ingin masalahnya menjadi ajang banding maka ia hanya menceritakannya pada Allah yg dapat di percaya seutuhnya. Betapa tentram hatinya setelah mencurahkan segala permasalahannya di atas sejadah di temani beberapa tetes air mata, di tengah keheningan malam yg di pecah bunyi detik jam dinding tengah malam, lalu memasrahkan seluruh urusannya hanya padanya.
Tentang Pulang
“JALAN YANG JAUH, JANGAN LUPA UNTUK PULANG,” katanya.
“TAPI PULANG KEMANA?,” tanyaku.
Rumah yg kau maksud seperti apa? Apa yg beratap atau yg bisa mengelus lembut kepala?
Pernahkah sesekali bertanya? Apakah tempatnya ngga nyaman.
Di satu tempat tapi ngga ada yg mengerti satu sama lain. Tertutup sampai lupa masih ada banyak kepedulian, ketika seseorang yg deket ngga bisa memahami satu sama lain.
Ditempat yg asing, ngga ada yg bertanya. Tidak ada kepedulian yg berlebihan. Tapi itu malah nyaman, nyaman ketika dipercaya menyelesaikannya sendiri.
Nyatanya aku sudah lama kehilangan tempat untuk pulang, ngga perlu merasa kasian. Kini aku sudah terbiasa, aku kuat berdiri dengan kedua kakiku. Memeluku tubuh dan jiwaku lalu bercerita pada Allah.
Tapi percaya, kalau semua orang pengen pulang, pulang ketempat yg nyaman. Mereka bahkan menangis karna ngga bisa pulang entah ditahan oleh keadaan atau ketakutan.