Perjalanan itu bukan ke luar, tidak pula ke ujung dunia. Perjalanan itu mengarah jauh ke dalam inti diri kita sendiri. Pulang, namanya. Sudahkah kita hari ini menengok setiap halaman hidup kita dan kemudian berani berdamai demi pulang kepada diri sendiri— rumah kita yang sejati sampai kita mati nanti?
Selasa, 29 Januari 2019
pulang
ada jenis perjalanan paling jauh yang tidak semua orang mampu menempuh. Bahkan untuk berangkatnya saja, tidak semua orang memiliki keberanian memulainya. Sebab di perjalanan itu akan dipenuhi temu terhadap rela, ikhlas kepada luka, sanggup untuk hilang, menetap pada sesat hingga kemudian memutuskan damai dan pulang.
Perjalanan itu bukan ke luar, tidak pula ke ujung dunia. Perjalanan itu mengarah jauh ke dalam inti diri kita sendiri. Pulang, namanya. Sudahkah kita hari ini menengok setiap halaman hidup kita dan kemudian berani berdamai demi pulang kepada diri sendiri— rumah kita yang sejati sampai kita mati nanti?
Perjalanan itu bukan ke luar, tidak pula ke ujung dunia. Perjalanan itu mengarah jauh ke dalam inti diri kita sendiri. Pulang, namanya. Sudahkah kita hari ini menengok setiap halaman hidup kita dan kemudian berani berdamai demi pulang kepada diri sendiri— rumah kita yang sejati sampai kita mati nanti?
Jumat, 25 Januari 2019
luar bumi
Jika pada waktu tertentu dinding
kamar berbayang kamu, angkat
tangan kanan sejajar dengan bahu
dan matikan rokok. Matikan lampu, lalu
pejamkan matamu. Ucap dalam
sanubarimu segala yang sempat tercekat
waktu.
Jika pada waktu tertentu kerlap-kerlip
yang di atasmu itu menjelma bibirku,
larikan jemarimu pada bibirmu dan
sentuh ia dari kanan ke kiri. Pelan-pelan.
Anggap saja itu kecup atau mungkin
ketap. Setelah itu, jangan lupa terlelap.
Jika pada suatu waktu sedang merasa duka mendekap erat-erat,
atau saat yang indah-indah sedang singgah
barang satu pekan atau tahun atau
mungkin hanya secepat kilat,
berjanji padaku 'tuk terus ucap
syukur dengan berkuadrat. Jangan lupa
pula bahwa aku akan selalu
mendoakanmu dengan berpangkat.
Semoga sehat, semoga selamat. Ingat
bahwa aku memilih di luar untuk terus
bisa menyusup ke dalam dengan kuat.
Aku erat. Aku dekat. Denganmu. Dari
sepuluh ribu lima ratus yang tersirat.
kamar berbayang kamu, angkat
tangan kanan sejajar dengan bahu
dan matikan rokok. Matikan lampu, lalu
pejamkan matamu. Ucap dalam
sanubarimu segala yang sempat tercekat
waktu.
Jika pada waktu tertentu kerlap-kerlip
yang di atasmu itu menjelma bibirku,
larikan jemarimu pada bibirmu dan
sentuh ia dari kanan ke kiri. Pelan-pelan.
Anggap saja itu kecup atau mungkin
ketap. Setelah itu, jangan lupa terlelap.
Jika pada suatu waktu sedang merasa duka mendekap erat-erat,
atau saat yang indah-indah sedang singgah
barang satu pekan atau tahun atau
mungkin hanya secepat kilat,
berjanji padaku 'tuk terus ucap
syukur dengan berkuadrat. Jangan lupa
pula bahwa aku akan selalu
mendoakanmu dengan berpangkat.
Semoga sehat, semoga selamat. Ingat
bahwa aku memilih di luar untuk terus
bisa menyusup ke dalam dengan kuat.
Aku erat. Aku dekat. Denganmu. Dari
sepuluh ribu lima ratus yang tersirat.
tentang abjad
Berkali-kali dijatuhkan oleh semesta lewat cara dengan sedemikian perih.
Namun berkali-kali pula, dituntut untuk terus mampu berdiri kokoh di tengah badai kemelut yang tak kunjung surut.
Memang terkadang, apa-apa yang terjadi begitu sukar untuk di mengerti.
Setidaknya pada titik terendah ini, siapapun bisa memahami maksud semesta. Bahwa bahagia pasti akan hadir dan saling beriringan.
Lantas, nikmati saja, sesuai kapasitas nya.
Jika sedih jangan hilang.
Jika senang jangan terbuai.
Namun berkali-kali pula, dituntut untuk terus mampu berdiri kokoh di tengah badai kemelut yang tak kunjung surut.
Memang terkadang, apa-apa yang terjadi begitu sukar untuk di mengerti.
Setidaknya pada titik terendah ini, siapapun bisa memahami maksud semesta. Bahwa bahagia pasti akan hadir dan saling beriringan.
Lantas, nikmati saja, sesuai kapasitas nya.
Jika sedih jangan hilang.
Jika senang jangan terbuai.
Langganan:
Postingan (Atom)