Sabtu, 14 November 2020

apa aku salah

mungkin aku bodoh? 

ketika jalan udah terbuka lebar namun aku memilih jalan lain,

ketika aku diberi sesuatu namun aku menolak mentah2,

ketika aku gagal paham atas diriku sendiri dan aku merasa benar,

ketika aku ingin menjadi manusia yg ku inginkan namun aku gagal bertanggung jawab atas semua itu,

ketika yg seharusnya aku bertumbuh kembang, yg ada malah gagal terbang,

ketika seseorang memberi jalan untuk masa depan, aku menolak nurut,

aku bodoh mungkin

namun apa aku salah?

aku ingin menjadi diriku sendiri,

aku ingin menjadi orang yg pantas aku banggakan,

aku ingin menjalani hidup sesuai yg aku inginkan, 

aku ingin bekerja atas hobiku,

aku ingin hidupku, aku yg menentukan

aku ingin tak ada seorang pun yg mengganggu gugat keinginanku untuk hidup sesuai yg ku inginkan

mungkin aku egois, lebih egois dari yg kau pikirkan

ini bukan tentang aku dengan kawan lain, 

bukan tentang aku dengan guru

bukan tentang aku dengan tuhan

Kamis, 03 September 2020

Persoalan Jarum dan Angka

hiruk pikuk, sumpah serapah dan segala keramaian yg ada di dalam kepalaku adalah buah dari ke-khawatiran yg kutanam. laiknya senja yg tercipta berkat bergumulnya awan suci dengan jingga matahari di ufuk barat, memicu kagum meski sadar segala keindahan akan segera lenyap. 

bukankah harapan itu nyata? ombak yg kehilangan arah di tengah samudera pun dapat kembali menapaki hangatnya daratan, pasir-pasir yg kedinginan pun memiliki surutnya sendiri untuk selimut malam, begitu juga dengan karang yg dijarah tanpa kesengajaan, adalah bukti nyata perihal adanya harapan meski perih harus terlebih dahulu dirasakan. 

lantas kunang-kunang pun berhamburan di sela berbagai macam tanya, indah, menawan, dan bersinar. seketika aku tersadar, takkan mungkin melihat keindahannya di siang hari, sebab matahari masih terlalu egois untuk di siasati. meski pada akhirnya karma didapatkan, kala bulan bersinar dengan elegan tepat di waktu matahari tenggelam.

semua ini hanya persoalan detak jarum dan angka yg menempel di dinding rumah, pergelangan tangan, jalan-jalan kota dan gedung-gedung bertingkat. kelak detaknya akan menunjuk takhta dari segala risau di dasar sukma, dari runyamnya berjuta-juta sel logika, dan segala andai yg merusak moral jika tak diiringi dengan sebuah tindakan.

aku pun beranjak dari lamunanku, sembari bergumam;

"beruntung sekali menemui kunang-kunang di malam hari, ternyata benar; segala hal memang memiliki waktunya sendiri."


Aku Tau Sepi

aku tau sepi

aku adalah teman yg berisik

aku adalah angin yg memelukmu sendiri

aku adalah malam tanpa suara


aku adalah kamar bagi bulan dan bintang

aku tak pernah bersuara

sekalipun meneriakimu sebagai segalanya

aku tak pernah punya cara mengusirmu dari rumahku


aku tau sepi

aku adalah murung yg menatapmu dalam gelap

aku tahu sepi

aku melihatmu pada setiap hela nafas yg tak kusyukuri


aku tak pernah berhitung tentangmu

yg datang berkali-kali

aku hanyalah fajar dan tidur yg tak dinanti

aku serupa gelap yg tak seluas malam


aku adalah mimpi bagi kesendirianku

aku adalah dunia di balik binar hujan di mataku sendiri

aku tau sepi

aku tau kau? dan kau tak pernah mengajakku bercanda


aku tau dalam bait-bait doa yg serakah

aku menyuruh Tuhan hari demi hari

aku membeli bahagia dari serapai ucapan

yg tak berguna


aku tak tau isi senyumku sendiri

aku tau sepi kau yg paling paham wajahku

paling paham tangis-tangis yg rangup di sela hujan 

kau paling tahu jalan-jalanku di setiap kali ingin mati 


aku tau sepi 

aku adalah kamar yang tak pernah terasa rapih

aku adalah setiap lagu-lagu yg berisik

pada lamunanku sendiri

aku tau sepi perahu kertas dan kapal-kapalan manalagi yg kubuat untuk mainanku sendiri


aku tau sepi

di malam-malam menuju hari 

adalah tempat paling nyaman

untuk kau dan aku sendirian

tak ada apapun kecuali riuh pada kepalaku sendiri

Sabtu, 29 Agustus 2020

Kutitipkan

Hanya kau yang tersimpan

di tiap habis bungkus rokokku

di tiap jaket-jaket lusuh yang robek itu

di tiap selembar uang terakhir di ujung malamku


Hanya kau yang tertidur pada mataku

mata yang menolak lelah dan menjual lelapnya

pada harapan yang berjejak

di tiap kaki yang lelah

hanya kau yang ada di dalam


Dan pada kamarku

pada sampah-sampah di sudut jendela

di tiap asbak yang penuh abu itu

hanya ada namamu di kepalaku

dan di tiap doa-doa tak suci itu


Aku selalu mendoakanmu

pada cinta yang tak tau 

Antara nyala bara rokokku

juga kerinduanmu 

hanya ada dirimu mengepul bersama waktu


Sabtu, 15 Agustus 2020

bersyukur

Aku semakin sadar bahwa hidup se-istimewa itu. Bahwa semesta takkan mengecewakan kalau kita berbuat baik padanya.

Menemukan uang disela tas atau kantung baju saat kau sangat membutuhkan, dibantu orang tak dikenal saat kau kesusahan di tengah jalan, mendapat hadiah undian bahkan saat kau tak mengharapkan, diperlakukan baik oleh semua orang, dan kejadian lainnya yang terkadang kau bingung dan merasa beruntung.

Kalau kau pernah merasa seperti itu, mungkin karena kebaikanmu yang tak kau sadari. Mungkin, karena doa-doa baikmu yang kau pernah hantarkan kepada orang lain, dan atau sebab-sebab baik lainnya.

Bersyukurlah, kau masih bisa menikmati hari sampai kini. Bersyukurlah, bersyukurlah.
Karena menurutku, lelah itu manusiawi. Perkara mengeluh, bagiku hanya karena kau belum terbiasa. 
Sampai saat kau terbiasa, tetap baik kepada semesta, ya!

"Tuhan memberi apa-apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Karena terkadang yang diinginkan, bukan kebutuhan."

Jika Menulis Adalah Cinta

Jika menulis adalah cinta, maka tinggalkan aku dengan sebuah pena, selembar kertas, dan aku berjanji aku akan membuatmu merasakan lagi betapa indahnya duduk di atas bentala tanpa alas apa-apa; bersama.

Jika menulis adalah cinta, diamkan aku di tengah bukit yang penuh gema restu; yang mengayuh dalam lembayung dari jauh, niscaya aku akan merengkuhmu dari setiap lara yang mencambuk kita.

Jika menulis adalah cinta, maka kamu adalah suatu mahakarya dari goresan aksaraku yang akan aku simpan bukan di lembar bukuku melainkan di hatiku yang paling dalam.

Kamu adalah jiwa dari setiap anak puisi-puisiku lahir dari sajak yang lewat dalam kalbu dan berterbangan ditemani alunan anila menuju masa depan yang amerta.

Kamu; yang menjadi bunga di setiap kata-kata.

Kamu; yang membuatku bisa menulis semua ini seindah lazuardi yang aku sangat ingin miliki.

Dan dariku untukmu adalah suatu terima kasih;

bukan hanya karena kau membuatku merasakan lagi bagaimana cinta mengisi lakuna, bukan hanya karena kau yang seorang kimpoidra dan menginspirasiku dalam menulis para prosa, tapi karena kau adalah kau; seseorang yang sangat berharga.

Senin, 10 Agustus 2020

kagum

kalau kuingat kapan aku tau namamu, aku tidak ingat
tapi, sejak kapan aku mengenal dirimu yg kupandang begitu banyak kelebihan itu, aku tentu saja tidak melupakannya

kamu orang yg mudah berbicara dengan siapa aja
menurutku itu wajar, dengan suaramu yg selalu menenangkan dan membuat siapapun kecanduan untuk mendengarkan, kamu mampu memikat begitu banyak pendengar 

kamu harus tau, bahwa suaramu itu, suara yg sejuk dan mengalir dengan begitu tenang menuju ingatan terkuatku

kemampuanmu memahami pelajaran apa saja adalah kekaguman yg menurutku lumrah orang-orang berikan untukmu

tapi, kebaikan dan kesabaranmu untuk membaginya, adalah rasa kagumku yg paling hebat 

kamu selalu berhasil membuatku percaya bahwa dunia ini penuh dengan keindahan yg tanpa kusadari nyata

di masa depan, orang hebat seperti apapun yg dirimu inginkan bisa kejadian,
aku yakin, itu pasti terjadi.

jujur, di masa-masa itu aku tidak pernah berharap apa-apa
menjadi temanmu hingga kamu ingat beberapa tahun ke depan saja aku sudah senang
sebab, menurutku hubungan remaja yg tidak pasti tujuan dan akhirnya

yg aku harapkan, jika ada suratan yg memungkinkan untukmu dan aku
aku mau itu membawa sebuah takdir yg baik dan tulus untukku

mempertemukan atau dipertemukan(?)

aku tidak tau bagaimana cara mendeskripsikan tentangmu, apakah bernada atau biasa aja? karena aku hanya mampu menuliskannya tanpa bisa berkata dan menggambarkannya dengan mengeja luka.

semua orang bahkan enggan menoleh padaku, mencemooh kehadiranku dan menjauh disaat aku sedang rapuh.

karna hari-hari terlalu berarti jika aku sibuk mencari kesalahan diri hanya untuk disukai dan ditemani. kini, aku sedang bertumbuh dan masih bertumbuh. aku akan menepati janjiku dan menunjukkannya pada setiap orang, nanti suatu saat waktu yang tidak sengaja mempertemukan atau di pertemuan suatu hari.

bahwa aku sudah memperbaiki diri dan masih menjaga hati, bukan aku tidak bisa jatuh cinta lagi, aku hanya enggan. sekalipun kamu manusia yang rumit, namun aku jauh lebih rumit. hatiku lebih dingin daripada sikapmu yang terlampau dingin– hatimu hangat dan aku butuh itu. aku memang masih belum tau cara mendeskripsikan tentangmu, tapi aku tau kata yang tepat untuk mendeskripsikanmu berbeda.


Minggu, 09 Agustus 2020

Hanya Aku (Bukan) Kita

Aku menatap lekat di balik kaca jendela, mengadu kepada Sang Pencipta. Merapalkan doa kian berharap jiwa saling melebur. Menaruh asa kepada hamparan biru agar asih berubah amerta.

Lekuk luka menggulai tubuh layu, hingga nanah—pun berbau segar pada kenelangsaan seorang diri.  Aku menggigil sebab dingin menjalar di setiap sudut ruang, tanpa dekap dirimu aku terus terjaga. Atma membentang dehidrasi menanti hujan, berharap kemarau lekas pulang.

Tetapi hadirmu hanyalah bayang, membuat imajiku semakin liar. Tak ada dekap yang kuharap, tak ada sentuhan yang kudamba, tak ada kamu di dalam ruang ini; hanya ada aku.

Hanya ada aku; di setiap cinta yang kubangun. Tiap malam-malam yang hadir, hingga pagi benderang. Hanya ada aku di setiap lamunanku tentang hadirmu.

Dan kita adalah fatamorgana, yang akan mulai usang. Setelah kesadaran menampar keras pipi merahku. Sudah waktunya, aku menutup lembar kisah berkamuflase abadi. Memori tentangmu kutata rapi, di sela rak buku, tanpa harus kusentuh kembali.

Kita hanya kontemplasi kisah dan aku akan selamanya terjebak di antara imaji, tanpa kita yang akan bersatu.

Rabu, 20 Mei 2020

sesuai alur

Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa kecuali aku akan melakukan semua hal yang terbaik, aku tidak sehebat mereka. Aku tidak sebaik mereka.

Hingga saat ini, aku belum bisa dianggap sukses dalam sisi keuangan, aku masih harus belajar banyak tentang arti tanggung jawab. Sesekali, mungkin kamu akan membutuhkanku dalam waktu dan kondisi yang tidak tentu. Oleh karena itu, aku tidak akan pernah mengatur handphoneku dalam kondisi silent. Kamu bisa menghubungiku setiap waktu.

Aku tidak bisa selalu mengawasi apa-apa aja yg di makan setiap hari. Walau aku tau bahwa kamu pasti lebih pandai memilih makanan bergizi dibanding diriku, aku tidak akan menghilangkan fakta bahwa kamu bisa sakit juga.

Aku mungkin bukan sosok seseorang yang terlihat baik di depan kedua orang tuamu, aku bukannya tidak mau banyak berjanji dan aku hanya takut tidak kuat menepatinya, aku hanya ingin menjalaninya sesuai alur.

Biarkan Aku

Jika tak ada yang mengajarimu untuk berhenti dalam mencari,
maka biarkan aku menjadi pelajaran bagimu bahwa yang mencari harus tau kapan untuk berhenti.
Jika tak ada yang mengajarimu untuk menghargai setiap kehadiran,
maka biarkan aku menjadi pelajaran bagimu bahwa menyia-nyiakan kehadiran hanya menambah kehilangan.
Jika tak ada yang mengajarimu untuk memperjuangkan,
maka biarkan aku menjadi pelajaran bagimu bahwa perjuangan tak pernah mudah adanya.
Jika tak ada yang mengajarimu untuk memenuhi janji,
maka biarkan aku menjadi pelajaran bahwa janji bukan sekadar ucapan penenang belaka.
Jika tak ada yang mengajarimu untuk memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin,
maka biarkan aku menjadi pelajaran bahwa tak semua kesempatan datang dua kali.
Jika tak ada yang mengajarimu,
maka biarkan aku, meski kata kita nantinya
hanya akan menjadi penyesalan dan pelajaran

Jumat, 24 April 2020

perlu kemana?

Bingung, perlu dicari kemana awan yang sudah ditiup angin?
Perlu dicari kemana pasir yang telah terhadang ombak?
Perlu dicari kemana dandelion yang sudah berterbangan?
Perlu dicari kemana?
Perlu dicari kemana cara untuk memperbaiki diri?
Perlu dicari kemana agar dapat berparas elok?
Perlu dicari kemana agar dapat bertutur lembut?
Perlu dicari kemana agar aku bisa menjadi sesempurna insan yang di inginkan?

Bagiku, semua yang dulu di harapkan adalah berusaha memperbaiki semua lubang ketidaksempurnaan yang mustahil. Seakan-akan aku adalah bukan apapun selain tanah buruk rupa. Seakan-akan aku adalah yang paling buruk seisi dunia. Seakan-akan bersanding denganku adalah sebuah aib yang perlu kamu tutupi.

Memangnya, sesempurna apa kamu sampai aku perlu lelah letih mencari kemana?
Kau tertawa di balik layar melihat bodohnya aku dalam berperan.
Kau terus membuang dan aku?
Bukankah sia-sia dan percuma?
Caramu menatap adalah kebohongan besar, pun untai katamu hanya bualan tanpa makna.
Tentu salahku dan pikiranku yang menghancurkanku.

Selasa, 31 Maret 2020

kematian

perihal bicara yg akan terjadi hari ini atau esok kita tidak pernah tau, 

kita hanya tetep selayaknya manusia biasa, 
kita yg berencana dan tuhan yg menentukan semuanya mau dipaksakan seperti apa jika memang bukan jalan takdirnya, yg ada perlahan hanya akan menyiksamu dengan sendirian. 

percayalah hidup bukan hanya tentang sebuah buku politik karya aristoteles ataupun sihir sihir karya j.k rowling. 

sudah saatnya kau berfikir dengan semestinya, sesuai dengan logika dan semua isi yg kau pendam dikepalamu. apa tidak iba melihatnya, selalu saja begitu didalem sana.

Selasa, 17 Maret 2020

maaf

maaf, 
jika aku tidak bisa apa-apa yg orang lain ingini. 
maaf, 
jika aku tidak bisa menjadi pribadi yg terlihat baik dimata khayalak. 


sebab aku manusia,
dan aku tidak pandai berpura-pura.
maka disinilah aku, 
mengigau dalam dada sendiri.
namun menjadi yg terburuk dimata khalayak, tidak apa.
bukankah menjadi diri sendiri tidak perlu meminta maaf?

Rabu, 01 Januari 2020

manusiawi

Kamu punya hak penuh untuk bosan. Aku pun begitu.

Kamu bisa aja bosan dengan kepedulianku. Menanyakan apa yang kamu makan untuk sarapan atau justru mengingatkanmu soal itu. Memberikan balasan atas keluhanmu sepanjang hari dengan teduh, berharap besok kamu tidak akan merasakan hal yang sama lagi, kamu bisa saja bosan dengan kepedulianku. Aku pun begitu.

Kamu bisa saja bosan dengan aku yang mengirimkanmu pesan setiap malam. Membicarakan hal tidak penting seperti tembok pantul untuk olahraga di sekolah sampai pemanasan global. Aku memang tidak pandai dengan topik pembicaraan. Wajar apabila kamu bosan kepadaku. Adil, bukan, kalau nanti aku merasakan hal yang sama?

Aku tau bosan adalah suatu hal yang pasti. Aku mengerti kalau kamu bosan itu sangatlah wajar, tapi aku? Ahh entah lah itu urusanku gimana nanti.
berkeliling dunia saja dulu sampai bosanmu hilang, tapi jangan lupa pulang, karna tempat tujuan mu adalah keluarga.