Sabtu, 29 Agustus 2020

Kutitipkan

Hanya kau yang tersimpan

di tiap habis bungkus rokokku

di tiap jaket-jaket lusuh yang robek itu

di tiap selembar uang terakhir di ujung malamku


Hanya kau yang tertidur pada mataku

mata yang menolak lelah dan menjual lelapnya

pada harapan yang berjejak

di tiap kaki yang lelah

hanya kau yang ada di dalam


Dan pada kamarku

pada sampah-sampah di sudut jendela

di tiap asbak yang penuh abu itu

hanya ada namamu di kepalaku

dan di tiap doa-doa tak suci itu


Aku selalu mendoakanmu

pada cinta yang tak tau 

Antara nyala bara rokokku

juga kerinduanmu 

hanya ada dirimu mengepul bersama waktu


Sabtu, 15 Agustus 2020

bersyukur

Aku semakin sadar bahwa hidup se-istimewa itu. Bahwa semesta takkan mengecewakan kalau kita berbuat baik padanya.

Menemukan uang disela tas atau kantung baju saat kau sangat membutuhkan, dibantu orang tak dikenal saat kau kesusahan di tengah jalan, mendapat hadiah undian bahkan saat kau tak mengharapkan, diperlakukan baik oleh semua orang, dan kejadian lainnya yang terkadang kau bingung dan merasa beruntung.

Kalau kau pernah merasa seperti itu, mungkin karena kebaikanmu yang tak kau sadari. Mungkin, karena doa-doa baikmu yang kau pernah hantarkan kepada orang lain, dan atau sebab-sebab baik lainnya.

Bersyukurlah, kau masih bisa menikmati hari sampai kini. Bersyukurlah, bersyukurlah.
Karena menurutku, lelah itu manusiawi. Perkara mengeluh, bagiku hanya karena kau belum terbiasa. 
Sampai saat kau terbiasa, tetap baik kepada semesta, ya!

"Tuhan memberi apa-apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Karena terkadang yang diinginkan, bukan kebutuhan."

Jika Menulis Adalah Cinta

Jika menulis adalah cinta, maka tinggalkan aku dengan sebuah pena, selembar kertas, dan aku berjanji aku akan membuatmu merasakan lagi betapa indahnya duduk di atas bentala tanpa alas apa-apa; bersama.

Jika menulis adalah cinta, diamkan aku di tengah bukit yang penuh gema restu; yang mengayuh dalam lembayung dari jauh, niscaya aku akan merengkuhmu dari setiap lara yang mencambuk kita.

Jika menulis adalah cinta, maka kamu adalah suatu mahakarya dari goresan aksaraku yang akan aku simpan bukan di lembar bukuku melainkan di hatiku yang paling dalam.

Kamu adalah jiwa dari setiap anak puisi-puisiku lahir dari sajak yang lewat dalam kalbu dan berterbangan ditemani alunan anila menuju masa depan yang amerta.

Kamu; yang menjadi bunga di setiap kata-kata.

Kamu; yang membuatku bisa menulis semua ini seindah lazuardi yang aku sangat ingin miliki.

Dan dariku untukmu adalah suatu terima kasih;

bukan hanya karena kau membuatku merasakan lagi bagaimana cinta mengisi lakuna, bukan hanya karena kau yang seorang kimpoidra dan menginspirasiku dalam menulis para prosa, tapi karena kau adalah kau; seseorang yang sangat berharga.

Senin, 10 Agustus 2020

kagum

kalau kuingat kapan aku tau namamu, aku tidak ingat
tapi, sejak kapan aku mengenal dirimu yg kupandang begitu banyak kelebihan itu, aku tentu saja tidak melupakannya

kamu orang yg mudah berbicara dengan siapa aja
menurutku itu wajar, dengan suaramu yg selalu menenangkan dan membuat siapapun kecanduan untuk mendengarkan, kamu mampu memikat begitu banyak pendengar 

kamu harus tau, bahwa suaramu itu, suara yg sejuk dan mengalir dengan begitu tenang menuju ingatan terkuatku

kemampuanmu memahami pelajaran apa saja adalah kekaguman yg menurutku lumrah orang-orang berikan untukmu

tapi, kebaikan dan kesabaranmu untuk membaginya, adalah rasa kagumku yg paling hebat 

kamu selalu berhasil membuatku percaya bahwa dunia ini penuh dengan keindahan yg tanpa kusadari nyata

di masa depan, orang hebat seperti apapun yg dirimu inginkan bisa kejadian,
aku yakin, itu pasti terjadi.

jujur, di masa-masa itu aku tidak pernah berharap apa-apa
menjadi temanmu hingga kamu ingat beberapa tahun ke depan saja aku sudah senang
sebab, menurutku hubungan remaja yg tidak pasti tujuan dan akhirnya

yg aku harapkan, jika ada suratan yg memungkinkan untukmu dan aku
aku mau itu membawa sebuah takdir yg baik dan tulus untukku

mempertemukan atau dipertemukan(?)

aku tidak tau bagaimana cara mendeskripsikan tentangmu, apakah bernada atau biasa aja? karena aku hanya mampu menuliskannya tanpa bisa berkata dan menggambarkannya dengan mengeja luka.

semua orang bahkan enggan menoleh padaku, mencemooh kehadiranku dan menjauh disaat aku sedang rapuh.

karna hari-hari terlalu berarti jika aku sibuk mencari kesalahan diri hanya untuk disukai dan ditemani. kini, aku sedang bertumbuh dan masih bertumbuh. aku akan menepati janjiku dan menunjukkannya pada setiap orang, nanti suatu saat waktu yang tidak sengaja mempertemukan atau di pertemuan suatu hari.

bahwa aku sudah memperbaiki diri dan masih menjaga hati, bukan aku tidak bisa jatuh cinta lagi, aku hanya enggan. sekalipun kamu manusia yang rumit, namun aku jauh lebih rumit. hatiku lebih dingin daripada sikapmu yang terlampau dingin– hatimu hangat dan aku butuh itu. aku memang masih belum tau cara mendeskripsikan tentangmu, tapi aku tau kata yang tepat untuk mendeskripsikanmu berbeda.


Minggu, 09 Agustus 2020

Hanya Aku (Bukan) Kita

Aku menatap lekat di balik kaca jendela, mengadu kepada Sang Pencipta. Merapalkan doa kian berharap jiwa saling melebur. Menaruh asa kepada hamparan biru agar asih berubah amerta.

Lekuk luka menggulai tubuh layu, hingga nanah—pun berbau segar pada kenelangsaan seorang diri.  Aku menggigil sebab dingin menjalar di setiap sudut ruang, tanpa dekap dirimu aku terus terjaga. Atma membentang dehidrasi menanti hujan, berharap kemarau lekas pulang.

Tetapi hadirmu hanyalah bayang, membuat imajiku semakin liar. Tak ada dekap yang kuharap, tak ada sentuhan yang kudamba, tak ada kamu di dalam ruang ini; hanya ada aku.

Hanya ada aku; di setiap cinta yang kubangun. Tiap malam-malam yang hadir, hingga pagi benderang. Hanya ada aku di setiap lamunanku tentang hadirmu.

Dan kita adalah fatamorgana, yang akan mulai usang. Setelah kesadaran menampar keras pipi merahku. Sudah waktunya, aku menutup lembar kisah berkamuflase abadi. Memori tentangmu kutata rapi, di sela rak buku, tanpa harus kusentuh kembali.

Kita hanya kontemplasi kisah dan aku akan selamanya terjebak di antara imaji, tanpa kita yang akan bersatu.