dipagi hari mungkin kau akan menjadi kala pertama saat kau bangun, dengan rambut lepekmu, kantung matamu, pori pori lembabmu, juga segala perilaku aneh yg belum pernah tayang sebelumnya, lalu menyaksikanmu bersusah payah membuka tirai kamar dan kulit kulit kita akan dikelitikin matahari kau akan menarik tanganku secara sporadis, kau akan begitu spartan hanya karna memintaku untuk tidak kembali rebahan, setelah itu terjadilah upacara menyikat gigi bersama sama jg bersama sama malu karna dihadapan paduka cermin, sampai dimana kita masuk pada segmen menyerahkan tawa pada satu sama lain.
sepertinya kamu masih terlalu belia untuk menjadi juru masak, namun dengar kau tak perlu khawatir bila kau tak begitu terampil karna sejujurnya telor dadarmu yg tak semetris, atau pun segelas teh mu yg terlalu manis udah begitu melimpah bagiku.
aku akan membantumu menyeduh air panas untuk setiap janji2 kita, sampai nanti kita rebus bersama sama menunggu mateng agar bisa kita santap hari ini, meski nanti rasanya kurang begitu bersahabat namun di depanmu aku akan berpura2 hebat.
ruang tamu akan menjadi panggung berisik atas komentar2 mu lonjakan harga pangan di pasar, tentang tagihan listrik, biaya internet, juga biaya cicilan kita lainnya. dibalik perekonomian yg pas2an bisa bersamamu berasa kaya.
di sore hari kita akan menegur kucing2 kelaparan yg lewat depan rumah menawarkannya sepotong ikan pindang atau melihat tetangga asing yg sibuk dengan urusannya masing2.
sekarang liat aku baik2, aku bukan lah sosok yg pinter meramui hidup bukan pria dengan segala sikap2 cemerlangnya, mungkin aku akan bertindak apatis, skeptis, atau berlaku tidak etis kepadamu. bahkan garis2 di telapak tanganku saja tidak membentuk namamu. aku menawarkanmu babak baru untuk kita cerobohkan bersama2 aku menginkanmu hingga bungkuk, tuli, celaka. mungkin aku bukan suami yg baik namun aku tidak akan berbalik