Selasa, 31 Desember 2019

aku dan semesta lainnya

sudah larut malem dan aku masih aja terjaga, bahkan ngantuk pun tak melanda.

langit, bolehkah aku bercerita? barangkali selepas mencurahkan segala keluh kesah, aku lega. boleh, ya?

langit, aku iri akan keindahan pagi harimu di mana fajar menghiasinya dengan sempurna, membangunkan ayam jantan agar tak telat untuk berkokok, juga menyadarkan tiap-tiap manusia dari mimpinya untuk senantiasa bergegas memulai hari.

aku pun hanyut dalam teduhnya siang harimu, merasa panas sebab raja siang yang tengah berkumandang namun tetap berantusias mengerjakan segala hal hingga selesai dan selamat beristirahat dunia.


cara dewasa

ajari aku satu hal,
bagaimana caranya menjadi dewasa?
jalan yg ku tempuh semakin terjal
penuh dengan bisikan ajal
ia setia mengawasiku dari setiap sudut
bersiap untuk menjemput atau di jemput

dewasaku adalah ketika aku mampu
melakukan apapun yg kumau, pikirku dulu
tanpa larangan dari bapak ibu
dan aturan lainnya yg membelenggu

sekarang, aku baru merasakan yg namanya hilang arah
tak tau apakah harus tetap melangkah atau menyerah
dewasa ku ternyata payah
tak lebih dari susah dan gundah

saat tanyaku tak pernah sirna
ku mohon ajari aku dengan leluasa

hanya angan-angan

maaf aku lancang dengan menuliskan ini, anggap aja kurang ajar. tak apa, toh juga aku tak berharap tulisan ini sampai pada netra berlansamu itu. aku udah gapeduli, ada hati yg perlu aku selamatkan, miliku tepatnya.

bertahun2 aku bersamaimu, mengendali kedua sisimu, turut dalam senangmu, dan bahkan dalam susahmu, semua kulakukan hanya untukmu.

ketika bahkan aku mengalami kesusahanku, tetep ku usahakan sebuah senyum untukmu. aku hanya tak ingin kau berpikir bahwa aku susah bersamamu. aku hanya ingin kau mengingat aku sebagai sosok bahagia, terlebih bersamamu.

berhari2 kulalui dengan penuh angan bersamamu. malam2 ku isi dengan doa untuk dirimu. ku semogakan semua tentangmu, lebih dariku karna sedari awal kau adalah yg paling penting.

namun, saat bahkan aku melupakan kebahagian untuk diriku sendiri karna aku telah yakin bahwa kau adalah rumahku berpulang, justru kaulah yg mematahkan angan tersebut menjadi puing2.

kapan lulus(?)

"kamu, kapan wisuda?"

udah hampir beberapa bulan, pertanyaan itu masih aja selalu aku dapatkan.

bedanya, di bulan-bulan pertama hingga bulan selanjutnya hati dan senyumku memang masih miris saat mendengarnya, tapi dibulan selanjutnya perasaanku selalu teriris ketika mendengarkan pertanyaan itu.

kawan, dimana pun kalian berada.
entah yang sedang merasakan hal yang sama denganku, dan atau pernah merasakannya. jangan bersedih. jangan lagi putus asa. jangan lagi merasa hidupmu tak berguna. apalagi masih membandingkan dirimu dengan yang lain. sebab; "hidup gaselalu tentang penerimaan. tapi tentang penolakan juga. hidup gaselalu tetang manis, tapi tentang pahit juga."

gapapa saat ini kau ditolak, seperti tak diinginkan, seperti terbuang, seperti tak berguna. esok lusa, percayalah, kau akan menerima sebuah penerimaan yang luar biasa. kau akan di prioritaskan. entah itu dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan apa pun itu.

dan untuk kalian yang tahun ini akan lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi, mencari kerja, atau mencari kehidupan baru ingatlah;

 penolakan akan selalu ada, maka
 tak ada salahnya kau persiapkan
 lebih awal, agar nanti saat penolakan
 itu datang, kau tetap menemukan
 setengah dari dirimu yang masih
 baik-baik saja.

Jangan seperti diriku, yang lupa
bahwa hidup juga tentang penolakan.

Selasa, 29 Januari 2019

pulang

ada jenis perjalanan paling jauh yang tidak semua orang mampu menempuh. Bahkan untuk berangkatnya saja, tidak semua orang memiliki keberanian memulainya. Sebab di perjalanan itu akan dipenuhi temu terhadap rela, ikhlas kepada luka, sanggup untuk hilang, menetap pada sesat hingga kemudian memutuskan damai dan pulang.

Perjalanan itu bukan ke luar, tidak pula ke ujung dunia. Perjalanan itu mengarah jauh ke dalam inti diri kita sendiri. Pulang, namanya. Sudahkah kita hari ini menengok setiap halaman hidup kita dan kemudian berani berdamai demi pulang kepada diri sendiri— rumah kita yang sejati sampai kita mati nanti?

Jumat, 25 Januari 2019

luar bumi

Jika pada waktu tertentu dinding
kamar berbayang kamu, angkat
tangan kanan sejajar dengan bahu
dan matikan rokok. Matikan lampu, lalu
pejamkan matamu. Ucap dalam
sanubarimu segala yang sempat tercekat
waktu.

Jika pada waktu tertentu kerlap-kerlip
yang di atasmu itu menjelma bibirku,
larikan jemarimu pada bibirmu dan
sentuh ia dari kanan ke kiri. Pelan-pelan.
Anggap saja itu kecup atau mungkin
ketap. Setelah itu, jangan lupa terlelap.

Jika pada suatu waktu sedang merasa duka mendekap erat-erat,
atau saat yang indah-indah sedang singgah
barang satu pekan atau tahun atau
mungkin hanya secepat kilat,
berjanji padaku 'tuk terus ucap
syukur dengan berkuadrat. Jangan lupa
pula bahwa aku akan selalu
mendoakanmu dengan berpangkat.

Semoga sehat, semoga selamat. Ingat
bahwa aku memilih di luar untuk terus
bisa menyusup ke dalam dengan kuat.
Aku erat. Aku dekat. Denganmu. Dari
sepuluh ribu lima ratus yang tersirat.

tentang abjad

Berkali-kali dijatuhkan oleh semesta lewat cara dengan sedemikian perih.
Namun berkali-kali pula, dituntut untuk terus mampu berdiri kokoh di tengah badai kemelut yang tak kunjung surut.

Memang terkadang, apa-apa yang terjadi begitu sukar untuk di mengerti.
Setidaknya pada titik terendah ini, siapapun bisa memahami maksud semesta. Bahwa bahagia pasti akan hadir dan saling beriringan.

Lantas, nikmati saja, sesuai kapasitas nya.
Jika sedih jangan hilang.
Jika senang jangan terbuai.