Sabtu, 10 Februari 2024

Tengah Malam

Tengah Malam terlintas akan mimpi-mimpiku yg belum kunjung datang, daun di pepohonan berguguran, tiang listrik di depan rumah masih saja sendirian, mobil tetangga yg parkir di samping taman juga kedinginan, ditambah dengan suara induk kucing yg sedang sibuk mencari anak-anaknya. Nuansa ini menakjubkan, tidak terlalu ramai tapi menenangkan.

Tengah malam remang lampu jalan merayap sayup-sayup terlihat seperti permai suri anggun yg dermawan, terang, jujur, dan rupawan seperti kerinduan yg tersyukur meminta belas kasian. Seperti langit di atas kepalaku yg sepenuhnya milik bulan atau seperti birunya pipiku yg menjelma balerina. Menari-nari merayakan hari patah sedunia yg menangis sekaligus tertawa namun tetap elok tampil di atas panggung sandiwara.

Tengah malam tercium udara bandung yg sudah cukup lama di guyur hujan. Dikaki ku ada becek, di lengan ku ada lembab, dan mataku masih saja sembab. Basahnya membuatku sedikit mengerti bahwa akan selalu ada yg berharga dari masa lalu untuk dibawa ke masa depan. Bahwa kenangan tak akan mati meski kita sudah mencoba membunuhnya dalam dekapan.

Tengah malam juga milik sinar binar kota yg tak pernah berubah, milik kedai kopi dengan bau latte, milik lampu merah dengan besi berkaratnya, milik trotoar yg penuh dengan pejuang kaki limanya, atau milik anak-anak yg terlantar kotor yg bau sudah lama kehilangan kemerdekaannya.

Tengah malam juga miliku dengan doa-doa ku yg tersemat, ibadah ku yg terlambat, harap-harap ku yg terhambat, dan segepok aamiin yg merambat. 

Aku berucap dalam hati “Allah tolong jangan biarkan gelap ini pergi, aku masih ingin menikmati malam sebelum datangnya pagi, Allah tolong sisakan satu saja kehidupan yg baik untuk ku tidak perlu sempurna asal cukup di mengerti olehku”

Rabu, 07 Februari 2024

Pagi Raung

Jam 6 pagi melambung, gelora kuning merangsang langit yg meraung-raung. Selamat pagi dunia yg bingung, apa kabarnya matahari yg agung? Bagaimana malammu? Coba ku tebak pasti tidurmu penuh dengan untung, tidak sepertiku yg masih saja terus berkabung.

Ku pikir hari ini akan menarik tapi sisi kota masih saja berisik, sekarang saja sudah tericium masalah-masalah aroma yg klasik pikir nalarku penuh dengan usik, hati berbisik wahai pemilik badan yg so asik. Selamat banting tulang juga fisik semoga ada keberuntungan kata orang-orang yg mengulurkan tangan mereka masih saja terdengar seperti kaum yg berangan-angan, padahal hidup adalah arena persaingan. Panggung megah untuk saling bunuh demi sekarung pangan atau jangan-jangan mereka lupa kalo seisi bumi penuh dengan bajingan.

Semangat bagi mereka seperti menerjang badai dengan setumpuk peluru padahal kaki kita hanya sanggup melompat-lompat seperti kanguru. Masalah bagi mereka adalah guru, yg hikmahnya bisa di petik dari segala penjuru padahal kita lah yg sedang di buru berlari kencang seperti babu, terjebak di rantai sosial yg tak lagi tabu. 

Pagi tak sebagus itu kawan, terima saja pahitnya tak perlulah melawan. Kedoknya saja yg indah, padahal pagi dateng membawa gundah. Awalnya saja bercahaya, padahal meninggalkan tanda bahaya. Sambutannya saja yg duka cita, padahal berpamitan dengan banyak derita. 


Rabu, 31 Januari 2024

Tidak Ada Seorangpun Yang Ngerti Kamu

 Ada yg lagi terpuruk banyak luka yg ia di tanggung sendirian. Tak pernah menceritakannya pada siapa-siapa, semua ke pahitan dan kesedihan ia telan sendirian. Setiap orang pasti punya ujian dan perjuangannya masing-masing. Ia tak ingin masalahnya menjadi ajang banding maka ia hanya menceritakannya pada Allah yg dapat di percaya seutuhnya. Betapa tentram hatinya setelah mencurahkan segala permasalahannya di atas sejadah di temani beberapa tetes air mata, di tengah keheningan malam yg di pecah bunyi detik jam dinding tengah malam, lalu memasrahkan seluruh urusannya hanya padanya.

Tentang Pulang

 “JALAN YANG JAUH, JANGAN LUPA UNTUK PULANG,” katanya.

“TAPI PULANG KEMANA?,” tanyaku.

Rumah yg kau maksud seperti apa? Apa yg beratap atau yg bisa mengelus lembut kepala?

Pernahkah sesekali bertanya? Apakah tempatnya ngga nyaman. 

Di satu tempat tapi ngga ada yg mengerti satu sama lain. Tertutup sampai lupa masih ada banyak kepedulian, ketika seseorang yg deket ngga bisa memahami satu sama lain. 

Ditempat yg asing, ngga ada yg bertanya. Tidak ada kepedulian yg berlebihan. Tapi itu malah nyaman, nyaman ketika dipercaya menyelesaikannya sendiri.

Nyatanya aku sudah lama kehilangan tempat untuk pulang, ngga perlu merasa kasian. Kini aku sudah terbiasa, aku kuat berdiri dengan kedua kakiku. Memeluku tubuh dan jiwaku lalu bercerita pada Allah.

Tapi percaya, kalau semua orang pengen pulang, pulang ketempat yg nyaman. Mereka bahkan menangis karna ngga bisa pulang entah ditahan oleh keadaan atau ketakutan.


Minggu, 13 Agustus 2023

warning

Bisa tolong kecilkan volumenya atau bubarkan saja konsernya? Supaya telingaku bisa berfungsi sebagaimana mestinya, bukan hanya mendengar argumen disertai nada amarah yang begitu lantang dan nyaring.

Bisa tolong tutup tirai pertunjukkannya? Supaya mataku bisa melihat indahnya pemandangan Sang Pencipta, bukan hanya melihat tangan yang mendarat di pipi, atau melihat vas bunga melayang dan pecah terhantam tembok.

Bisa tolong buang saja pita suaranya? Supaya hidupku lebih damai dan tentram seperti apa yang tersurat dalam ramalan garis tanganku, bukannya menjadikanku budak dalam konser musikalisasi hidupnya.

Bisa tolong patahkan saja tangannya? Supaya tubuhku bisa diperlakukan layaknya manusia yang dipayungi kasih sayang, bukannya seperti hewan yang mendapat kesengsaraan.

Bisa tolong hentikan dramanya? Supaya aku tidak pusing memikirkan skrip takdir Tuhan yang selanjutnya, bukan justru membawaku pada putaran takdir yang tak seharusnya dilewati.

pejuang

jika kalian adalah perantau yg sedang berjuang
jika kalian adalah sandwich generation 
atau jika kalian adalah anak laki laki yg dipaksa dewasa oleh keadaan 

tolong kalian harus baca ini kita harus semangat karna kita adalah pejuang yg harus berkeringat walaupun keringat bercucuran menyentuh pantat,
selagi dunia belum kiamat kita adalah si pejuang dan pekerja yg keras yg terhormat karna kita ingin membahagiakan keluarga secara akurat walaupun muka banyak debu hingga menimbulkan jerawat bagi pejuang itu tidak terlalu gawat karna masih ada obat di toko toko terdekat

syfhq

Huwa Huma Hum

Hiya Huma Hunna

Anta Antuma Antum

Anti Antuma Antunna

Ana Uhibbuki Fillah

selamanya sampai kita tua, sampai jadi debu, aku diliang yg satu, kau di sebelah ku. aamiin