Tengah malam remang lampu jalan merayap sayup-sayup terlihat seperti permai suri anggun yg dermawan, terang, jujur, dan rupawan seperti kerinduan yg tersyukur meminta belas kasian. Seperti langit di atas kepalaku yg sepenuhnya milik bulan atau seperti birunya pipiku yg menjelma balerina. Menari-nari merayakan hari patah sedunia yg menangis sekaligus tertawa namun tetap elok tampil di atas panggung sandiwara.
Tengah malam tercium udara bandung yg sudah cukup lama di guyur hujan. Dikaki ku ada becek, di lengan ku ada lembab, dan mataku masih saja sembab. Basahnya membuatku sedikit mengerti bahwa akan selalu ada yg berharga dari masa lalu untuk dibawa ke masa depan. Bahwa kenangan tak akan mati meski kita sudah mencoba membunuhnya dalam dekapan.
Tengah malam juga milik sinar binar kota yg tak pernah berubah, milik kedai kopi dengan bau latte, milik lampu merah dengan besi berkaratnya, milik trotoar yg penuh dengan pejuang kaki limanya, atau milik anak-anak yg terlantar kotor yg bau sudah lama kehilangan kemerdekaannya.
Tengah malam juga miliku dengan doa-doa ku yg tersemat, ibadah ku yg terlambat, harap-harap ku yg terhambat, dan segepok aamiin yg merambat.
Aku berucap dalam hati “Allah tolong jangan biarkan gelap ini pergi, aku masih ingin menikmati malam sebelum datangnya pagi, Allah tolong sisakan satu saja kehidupan yg baik untuk ku tidak perlu sempurna asal cukup di mengerti olehku”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar