Rabu, 07 Februari 2024

Pagi Raung

Jam 6 pagi melambung, gelora kuning merangsang langit yg meraung-raung. Selamat pagi dunia yg bingung, apa kabarnya matahari yg agung? Bagaimana malammu? Coba ku tebak pasti tidurmu penuh dengan untung, tidak sepertiku yg masih saja terus berkabung.

Ku pikir hari ini akan menarik tapi sisi kota masih saja berisik, sekarang saja sudah tericium masalah-masalah aroma yg klasik pikir nalarku penuh dengan usik, hati berbisik wahai pemilik badan yg so asik. Selamat banting tulang juga fisik semoga ada keberuntungan kata orang-orang yg mengulurkan tangan mereka masih saja terdengar seperti kaum yg berangan-angan, padahal hidup adalah arena persaingan. Panggung megah untuk saling bunuh demi sekarung pangan atau jangan-jangan mereka lupa kalo seisi bumi penuh dengan bajingan.

Semangat bagi mereka seperti menerjang badai dengan setumpuk peluru padahal kaki kita hanya sanggup melompat-lompat seperti kanguru. Masalah bagi mereka adalah guru, yg hikmahnya bisa di petik dari segala penjuru padahal kita lah yg sedang di buru berlari kencang seperti babu, terjebak di rantai sosial yg tak lagi tabu. 

Pagi tak sebagus itu kawan, terima saja pahitnya tak perlulah melawan. Kedoknya saja yg indah, padahal pagi dateng membawa gundah. Awalnya saja bercahaya, padahal meninggalkan tanda bahaya. Sambutannya saja yg duka cita, padahal berpamitan dengan banyak derita. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar