“JALAN YANG JAUH, JANGAN LUPA UNTUK PULANG,” katanya.
“TAPI PULANG KEMANA?,” tanyaku.
Rumah yg kau maksud seperti apa? Apa yg beratap atau yg bisa mengelus lembut kepala?
Pernahkah sesekali bertanya? Apakah tempatnya ngga nyaman.
Di satu tempat tapi ngga ada yg mengerti satu sama lain. Tertutup sampai lupa masih ada banyak kepedulian, ketika seseorang yg deket ngga bisa memahami satu sama lain.
Ditempat yg asing, ngga ada yg bertanya. Tidak ada kepedulian yg berlebihan. Tapi itu malah nyaman, nyaman ketika dipercaya menyelesaikannya sendiri.
Nyatanya aku sudah lama kehilangan tempat untuk pulang, ngga perlu merasa kasian. Kini aku sudah terbiasa, aku kuat berdiri dengan kedua kakiku. Memeluku tubuh dan jiwaku lalu bercerita pada Allah.
Tapi percaya, kalau semua orang pengen pulang, pulang ketempat yg nyaman. Mereka bahkan menangis karna ngga bisa pulang entah ditahan oleh keadaan atau ketakutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar